Langsung ke konten
SurgBookBelajar. Berdiskusi. Berbagi.
Foto artikel Fistula Perianal Perbesar foto
Fistula Perianal

ARTIKEL ILMU BEDAH

Fistula Perianal

11 subartikelDiskusi bersama

DIBANGUN BERSAMA

Tim & aktivitas artikel

Penanggung jawab

Administrator

Kontributor

Belum ada kontributor tambahan.

— / 50 penilai
0Pembaca unik
0Kunjungan unik harian

Pembaca unik dihitung lintas hari. Kunjungan adalah akumulasi hitungan sekali per akun per hari, mulai pencatatan fitur ini.

Login untuk memberi rating artikel

Gambaran umum

Gambaran klinis fistula perianal

Fistula-in-ano adalah saluran abnormal yang menghubungkan kanalis anus atau rektum distal dengan kulit perianal.

Sebagian besar fistula berkaitan dengan infeksi kripta anal dan abses anorektal sebelumnya.

Pasien dapat mengeluhkan keluarnya cairan berulang dari lubang kulit di sekitar anus.

Nyeri dapat memburuk saat abses kembali terbentuk atau ketika saluran tersumbat.

Lokasi lubang luar tidak selalu menunjukkan jalur internal secara sederhana.

Fistula diklasifikasikan menurut hubungannya dengan sfingter karena anatomi tersebut memengaruhi pilihan tindakan.

Tujuan tata laksana adalah mengendalikan sepsis dan menangani saluran sambil mempertahankan kontinensia.

Fistula kompleks dapat berkaitan dengan penyakit Crohn, radiasi, keganasan, atau kondisi khusus lainnya.

Riwayat abses, operasi anorektal, dan gangguan kontinensia penting digali sebelum tindakan.

Evaluasi oleh klinisi membantu menentukan apakah kasus sederhana, kompleks, atau memiliki penyebab sekunder.

Anatomi

Anatomi saluran fistula dan sfingter anus

Kanalis anus dikelilingi oleh sfingter anal internal dan sfingter anal eksternal.

Sfingter internal merupakan otot polos yang bekerja involunter.

Sfingter eksternal merupakan otot lurik yang memberi komponen kontrol volunter.

Ruang intersfingterik terletak di antara kedua lapisan tersebut.

Kripta anal dan kelenjar anal bermuara di sekitar linea dentata.

Infeksi kelenjar anal dapat meluas ke ruang perianal, intersfingterik, atau ruang lain.

Saluran fistula dapat melewati, berada di bawah, atau berhubungan dengan sfingter.

Hubungan ini menjadi dasar klasifikasi Parks yang mencakup jalur intersfingterik, transsfingterik, suprasfingterik, dan ekstrasfingterik.

Ketinggian saluran dan jumlah otot yang terlibat berhubungan dengan risiko gangguan kontinensia setelah tindakan.

Pemetaan anatomi harus dilakukan sebelum memutuskan prosedur yang membagi atau mempertahankan sfingter.

Etiologi & Faktor Resiko

Penyebab dan kondisi yang berhubungan dengan fistula

Fistula kriptoglandular biasanya berawal dari obstruksi dan infeksi kelenjar anal.

Abses dapat menyebar mengikuti ruang anatomi di sekitar kanal anus.

Setelah abses mengalir atau didrainase, sebagian pasien mengalami saluran persisten antara sumber internal dan kulit.

Tidak setiap abses berkembang menjadi fistula yang menetap.

Penyakit Crohn dapat menimbulkan fistula perianal multipel atau kompleks.

Radiasi pelvis, keganasan, trauma, dan operasi anorektal termasuk konteks penyebab sekunder yang perlu dipertimbangkan.

Tuberkulosis dan infeksi tertentu dapat dipikirkan berdasarkan faktor epidemiologi dan gambaran klinis.

Riwayat abses berulang dapat mengisyaratkan saluran yang belum teratasi atau rongga lain.

Komorbiditas pasien berpengaruh pada penyembuhan luka serta pemilihan tindakan.

Pemeriksaan bertujuan mencari penyebab khusus karena tata laksana fistula Crohn berbeda dari fistula sederhana.

Patofisiologi

Perjalanan abses menjadi fistula perianal

Infeksi kelenjar anal dapat membentuk fokus inflamasi di sekitar linea dentata.

Akumulasi pus menghasilkan abses yang dapat menyebar mengikuti jalur dengan resistensi jaringan lebih rendah.

Abses perianal dapat menimbulkan nyeri, kemerahan, pembengkakan, dan gejala sistemik.

Drainase spontan atau tindakan drainase mengurangi tekanan tetapi tidak selalu menutup sumber internal.

Bila hubungan antara kripta anal dan kulit tetap terbuka, saluran fistula dapat menetap.

Sumbatan sementara pada saluran dapat menyebabkan episode abses dan nyeri berulang.

Cabang sekunder atau rongga berbentuk tapal kuda dapat membuat anatomi lebih kompleks.

Peradangan kronis dapat menghasilkan jaringan parut di sekitar saluran.

Penyakit Crohn dapat menyebabkan ulserasi dan jalur fistula melalui mekanisme inflamasi yang berbeda.

Pemahaman jalur infeksi membantu merencanakan kontrol sepsis dan perlindungan fungsi sfingter.

Klasifikasi

Klasifikasi fistula berdasarkan jalur anatomi

Fistula dapat diklasifikasikan menurut hubungan salurannya dengan sfingter anus.

Fistula intersfingterik berjalan di antara sfingter internal dan eksternal.

Fistula transsfingterik melewati sebagian kompleks sfingter eksternal.

Fistula suprasfingterik melengkung di atas puborektalis sebelum menuju kulit.

Fistula ekstrasfingterik mencapai rektum dari luar kompleks sfingter dan memerlukan pencarian penyebab khusus.

Fistula sederhana umumnya memiliki jalur rendah dengan keterlibatan sfingter terbatas.

Fistula kompleks dapat memiliki jalur tinggi, banyak cabang, atau keterlibatan beberapa ruang.

Penyakit Crohn, inkontinensia awal, radiasi, dan kekambuhan dapat mengubah kasus menjadi kompleks.

Klasifikasi klinis tidak selalu menggambarkan seluruh percabangan yang ditemukan saat operasi atau MRI.

Pemetaan lengkap membantu operator memilih pendekatan yang menyeimbangkan penyembuhan dan kontinensia.

Anamnesis

Anamnesis cairan dan abses perianal berulang

Tanyakan kapan keluhan pertama terjadi dan apakah pernah didiagnosis abses perianal.

Catat lokasi lubang kulit dan apakah cairan keluar terus-menerus atau hanya saat nyeri kambuh.

Tanyakan karakter cairan, darah, bau, dan jumlahnya tanpa menyimpulkan penyebab dari tampilannya saja.

Gali riwayat demam, pembengkakan, nyeri berdenyut, dan prosedur drainase sebelumnya.

Episode abses berulang dapat membantu mengenali jalur atau rongga yang persisten.

Tanyakan perubahan kontrol flatus dan tinja sebelum rencana tindakan.

Riwayat penyakit Crohn, diare kronis, nyeri perut, dan penurunan berat badan perlu dicatat.

Riwayat radiasi, operasi anorektal, trauma, dan infeksi khusus membantu menilai etiologi sekunder.

Obat yang memengaruhi imunitas dan penyakit penyerta penting untuk perencanaan penyembuhan.

Tujuan pasien terkait nyeri, drainase, dan kualitas hidup sebaiknya dibahas dalam konseling.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan perianal pada fistula

Inspeksi dilakukan untuk mencari lubang eksternal, jaringan granulasi, parut, dan kemerahan.

Lokasi lubang dicatat menurut orientasi jam dengan posisi pasien yang jelas.

Tekanan ringan pada jaringan dapat menunjukkan arah keluarnya cairan, tetapi tidak boleh dipaksakan.

Fluktuasi, nyeri tekan, atau kemerahan dapat menandakan abses aktif.

Pemeriksaan colok dubur menilai massa, nyeri, tonus, dan kemungkinan kelainan rektum bila dapat ditoleransi.

Anoskopi dapat membantu mencari sumber internal atau patologi kanal anus.

Pemeriksaan harus mempertimbangkan nyeri pasien dan dapat ditunda atau dilakukan dengan anestesi bila perlu.

Pemeriksa menilai fungsi kontinensia dasar karena temuan ini memengaruhi pilihan operasi.

Lubang kulit yang tampak tidak memastikan seluruh jalur atau percabangan fistula.

Pemeriksaan sistemik juga menilai demam, dehidrasi, dan tanda infeksi berat.

Penunjang

Pencitraan dan pemeriksaan tambahan fistula

Pemeriksaan pencitraan tidak selalu diperlukan pada fistula sederhana yang jalurnya jelas.

MRI pelvis dapat memetakan jalur utama, cabang, rongga abses, dan hubungannya dengan sfingter.

Ultrasonografi endoanal dapat memberikan detail kanal anus dan kompleks sfingter pada pusat yang berpengalaman.

Pencitraan lebih berguna pada fistula kompleks, berulang, atau saat pemeriksaan klinis tidak menjawab anatomi.

Pemeriksaan dengan anestesi memungkinkan evaluasi jalur dan drainase dengan kondisi pasien lebih nyaman.

Tes laboratorium dipilih bila ada demam, sepsis, anemia, atau dugaan penyakit inflamasi sistemik.

Evaluasi penyakit Crohn dapat mencakup pemeriksaan gastrointestinal sesuai gejala dan konsultasi spesialis.

Kultur cairan tidak rutin diperlukan untuk setiap fistula sederhana.

Hasil pencitraan ditafsirkan bersama temuan klinis karena setiap modalitas memiliki keterbatasan.

Pemeriksaan tambahan dipilih bila dapat mengubah rencana tindakan atau mengidentifikasi penyebab sekunder.

Diagnosis

Menegakkan diagnosis fistula-in-ano

Diagnosis dicurigai dari riwayat abses dan keluarnya cairan berulang melalui lubang perianal.

Inspeksi sering menunjukkan satu atau lebih lubang eksternal.

Pemeriksaan anorektal membantu mencari nyeri, massa, dan kemungkinan bukaan internal.

Jalur tidak boleh dicari dengan probing paksa karena dapat membuat saluran palsu atau cedera.

MRI atau ultrasonografi dipilih bila anatomi kompleks atau diagnosis masih belum pasti.

Diagnosis banding mencakup hidradenitis suppurativa, sinus pilonidal, kista, dan lesi kulit terinfeksi.

Fistula yang multipel atau tidak lazim mendorong evaluasi Crohn, radiasi, keganasan, atau infeksi khusus.

Abses aktif dicatat karena kontrol sumber sepsis menjadi prioritas klinis.

Temuan kontinensia sebelum terapi menjadi bagian penting dokumentasi.

Diagnosis akhir menggabungkan riwayat, pemeriksaan, dan pencitraan sesuai kebutuhan.

Tatalaksana

Tatalaksana

Persiapan operasi :

  1. Posisi lithotomi.
  2. Desinfeksi anus dan sekitarnya dengan betadine.
  3. Dimasukkan Methylen blue melalui lubang fistel, kadang-kadang keluar langsung melalui anus.
  4. Dengan sonde dimasukkan kearah lubang yang di anus. Pada lubang fistel yang depan (jam 10 - jam 2) lubang didalam anus biasanya sesuai dengan jam fistel yang di kulit. Pada lubang fistel yang di belakang (jam 4 - jam 8) lubang fistel yang dianus biasanya selam jam 6.
  5. Atap jaringan yang diatas sonde dipotong.
  6. Jaringan granulasi sepanjang saluran fistel dikorek atau dibuang.
  7. Kontrol perdarahan.
  8. Tampon dengan kasa betadine.

Pasca bedah :

  1. Antibiotika dan analgetika.
  2. Dapat langsung diet oral.
  3. Tampon et setelah 24 jam, kemudian rendam PK pagi, sore dan setelah berak selama 10 menit.
  4. Kulit dan jaringan dibawahnya yang dipotong dijaga agar tidak menutup, bila ada tanda-tanda akan

Prognosis

Penyembuhan, kekambuhan, dan fungsi setelah fistula

Prognosis dipengaruhi kompleksitas jalur, etiologi, abses yang menyertai, dan kondisi jaringan.

Fistula sederhana umumnya memiliki pertimbangan tindakan yang berbeda dari fistula tinggi atau bercabang.

Kekambuhan dapat terjadi bila terdapat cabang atau sumber internal yang belum dikenali.

Penyakit Crohn dapat membutuhkan pengendalian inflamasi sistemik bersama perawatan bedah.

Prosedur yang membagi sfingter membawa pertimbangan kontinensia yang perlu disampaikan sebelum tindakan.

Teknik yang mempertahankan sfingter dapat memerlukan lebih dari satu tahap dan memiliki peluang gagal yang berbeda.

Pemantauan menilai nyeri, drainase, penutupan luka, abses baru, dan kontrol flatus atau tinja.

Gejala yang kembali memerlukan pemeriksaan ulang karena saluran baru dapat berbeda dari jalur awal.

Dukungan perawatan luka membantu pasien mengelola drainase selama proses penyembuhan.

Hasil individual ditentukan bersama pasien berdasarkan anatomi, tujuan terapi, dan risiko fungsi.

SUMBER PEMBELAJARAN

Daftar referensi

  1. Gaertner WB, Burgess PL, Davids JS, Lightner AL, Shogan BD, Sun MY, et al. The American Society of Colon and Rectal Surgeons Clinical Practice Guidelines for the Management of Anorectal Abscess, Fistula-in-Ano, and Rectovaginal Fistula. Dis Colon Rectum. 2022;65(8):964-985. doi: 10.1097/DCR.0000000000002473.

BELAJAR BERSAMA

Diskusi publik

Tanya jawab umum seputar artikel. Tugas dan koreksi kontributor berada di editor.

Baca diskusi secara publik. Login untuk berkomentar

Belum ada diskusi. Mulai dengan pertanyaanmu.

Fistula Perianal

Foto lengkap artikel Fistula Perianal