Pencitraan dan pemeriksaan tambahan fistula
Pemeriksaan pencitraan tidak selalu diperlukan pada fistula sederhana yang jalurnya jelas.
MRI pelvis dapat memetakan jalur utama, cabang, rongga abses, dan hubungannya dengan sfingter.
Ultrasonografi endoanal dapat memberikan detail kanal anus dan kompleks sfingter pada pusat yang berpengalaman.
Pencitraan lebih berguna pada fistula kompleks, berulang, atau saat pemeriksaan klinis tidak menjawab anatomi.
Pemeriksaan dengan anestesi memungkinkan evaluasi jalur dan drainase dengan kondisi pasien lebih nyaman.
Tes laboratorium dipilih bila ada demam, sepsis, anemia, atau dugaan penyakit inflamasi sistemik.
Evaluasi penyakit Crohn dapat mencakup pemeriksaan gastrointestinal sesuai gejala dan konsultasi spesialis.
Kultur cairan tidak rutin diperlukan untuk setiap fistula sederhana.
Hasil pencitraan ditafsirkan bersama temuan klinis karena setiap modalitas memiliki keterbatasan.
Pemeriksaan tambahan dipilih bila dapat mengubah rencana tindakan atau mengidentifikasi penyebab sekunder.
Sumber catatan
- Gaertner WB, Burgess PL, Davids JS, Lightner AL, Shogan BD, Sun MY, et al. The American Society of Colon and Rectal Surgeons Clinical Practice Guidelines for the Management of Anorectal Abscess, Fistula-in-Ano, and Rectovaginal Fistula. Dis Colon Rectum. 2022;65(8):964-985. doi: 10.1097/DCR.0000000000002473.
Lokasi catatan: ASCRS 2022: peran MRI, ultrasonografi, dan evaluasi khusus pada fistula kompleks atau berulang.
Lihat catatan dari sumber ini