Patofisiologi
Patofisiologi :
- Pada usia lanjut hormon testosteron menurun, estrogen tetap, jumlah sel leydig menurun, jumlah testosteron menurun, reseptor androgen meningat menyebablan hiperplasia
- Pada usia tua dengan produksi Heparin Binding EGF-like Growth Factor (HBEGF) dan basic Fibroblast Growth Factor (bFGF/FGF-2) dan peningkatan kadar IL-2, IL-4,
- IL-7, INF-γ yang dihasilkan oleh sel T yang berperan dalam proliferasi sel stromal prostat
- Inflamasi kronis yang terjadi didominasi oleh sel T dan sel fagosit mononuklear yang menghasilkan sitokin proliferatif serta faktor pertumbuhan. Sel T akan memengaruhi pembentukan formasi matriks yang mengakibatkan percepatan pertumbuhan jaringan fibromuskular dalam proses proliferasi stromal prostat dan proliferasi epitel/hyperplasia
Hiperplasia :
- Jumlah dan volume sel -> bergantung pada keseimbangan antara proliferasi dan apoptosis sel.
- Androgen tidak hanya diperlukan untuk proliferasi dan diferensiasi sel prostat -> tetapi juga secara aktif menghambat apoptosis.
- BPH merupakan penyakit yang berasal dari steam cell -> patogenesis dari sel-sel ini masih belum jelas.
- Dalam prostat manusia dewasa -> sel induk basal multipoten bertanggung jawab untuk regenerasi epitel luminal yang hilang karena apoptosis.
- Steam cell pada prostat normal jarang membelah, tetapi ketika sudah membelah -> memunculkan jenis sel yang berkembang biak melalui sintesis dan proliferasi DNA -> mempertahankan jumlah sel di prostat.
THE ROLE OF ANDROGENS
- Testosteron (T) berdifusi ke dalam sel epitel dan stroma prostat. Testosteron berinteraksi langsung dengan AR.
- Dalam sel stroma, sebagian besar testosteron diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) -> androgen yang jauh lebih kuat yang dapat bekerja secara autokrin dalam sel stroma atau secara parakrin dengan berdifusi ke dalam sel epitel.
- DHT yang diproduksi secara perifer, terutama di kulit dan hati, dapat berdifusi ke dalam prostat dari sirkulasi dan bertindak dengan cara endokrin.
ANDROGEN RECEPTORS
- Prostat -> berbeda dengan organ lain yang bergantung pada androgen, sehingga dapat merespons androgen sepanjang hidup.
- Di penis -> ekspresi AR menurun pada akhir masa pubertas. Meskipun kadar androgen dalam sirkulasi tinggi -> kehilangan kemampuannya untuk pertumbuhan.
- Tingkat AR di prostat tetap tinggi selama penuaan.
DIHYDROTESTOSTERONE AND STEROID 5Α-REDUCTASE
- Dua enzim steroid 5α-reduktase :
- - 5α-reductase tipe 1 : enzim utama dalam jaringan ekstraprostatik, seperti kulit dan hati, biasanya dihambat oleh dutasteride, tetapi tidak oleh finasteride.
- - 5α-reduktase tipe 2 : enzim prostat yang dominan, meskipun juga diekspresikan dalam jaringan ekstraprostatik, sangat sensitif terhadap penghambatan oleh finasteride dan dutasteride.
- Tipe 2 : penting untuk perkembangan normal prostat dan pertumbuhan hiperplastik di kemudian hari.
- Tipe 1 : berperan lebih penting dalam kanker prostat dibandingkan dengan BPH
The Role of Estrogens
- Peran estrogen dalam pengembangan BPH manusia : masih belum jelas
- Estrogen terlibat dalam induksi AR.
- Ada dua bentuk reseptor estrogen Reseptor estrogen α diekspresikan oleh sel stroma prostat, dan reseptor estrogen β diekspresikan oleh sel epitel prostat. Peningkatan reseptor estrogen α pada sel stroma prostat berkaitan dengan peningkatan FGF-2, FGF-7, dan faktor pertumbuhan lainnya
- Kadar estrogen intraprostatik meningkat pada pria dengan BPH. Pasien dengan volume BPH yang lebih besar cenderung memiliki kadar estradiol yang lebih tinggi di sirkulasi perifer.
- Saat ini : peran estrogen dalam BPH manusia tidak sekuat peran androgen.
Faktor yang berkaitan dengan pertumbuhan prostat terdiri dari basic fibroblastic growth factor (bFGF), acidic FGF (FGF-1), Int-2 (FGF-3), keratinocyte growth factor (KGF, FGF-7), transforming growth factor (TGF-β), dan epidermal growth factor (EGF). TGF-β adalah penghambat proliferasi yang kuat pada sel epitel normal di berbagai jaringan. Dalam kanker prostat, terdapat bukti bahwa sel ganas tidak terpengaruh oleh TGF-β. Mekanisme serupa mungkin bekerja di BPH, yang mengarah pada akumulasi sel epitel.
Berdasarkan pembesaran
Diagram jaringan prostat hiperplastik yang menghalangi uretra prostatika, membentuk "lobus". (A) Pembesaran lobus tengah yang terisolasi. (B) Pembesaran lobus lateral terisolasi. (C) Pembesaran lobus lateral dan tengah. (D) Hiperplasia komisural posterior (bilah median)
THE BLADDER’S RESPONSE TO OBSTRUCTION
- Respon buli terhadap obstruksi fase hipertrofi awal, fase kompensasi, dan dekompensasi yang melibatkan urothelium, suburothelium, detrusor sel otot polos, matriks ekstraseluler detrusor, dan saraf buli.
- Perubahan endoskopik pada detrusor adanya trabekulasi (peningkatan kolagen detrusor).
- Awalnya : Perubahan yang menyebabkan ketidakstabilan detrusor, sehingga muncul gejala frekuensi dan urgensi.
- Selanjutnya : perubahan yang terkait dengan penurunan kontraktilitas detrusor dikaitkan dengan penurunan kekuatan aliran urin, hesistensi, intermiten, peningkatan sisa urin, dan acute urinary retention (AUR).
- Respons akhir buli terhadap obstruksi yang sudah berlangsung lama dapat berupa kurangnya aktivitas detrusor (buli kurang aktif) -> kondisi stadium akhir
