Langsung ke konten
SurgBookBelajar. Berdiskusi. Berbagi.
Foto artikel Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free) Perbesar foto
Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free)

ARTIKEL ILMU BEDAH

Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free)

2 subartikelDiskusi bersama

DIBANGUN BERSAMA

Tim & aktivitas artikel

Penanggung jawab

Administrator

Kontributor

Belum ada kontributor tambahan.

— / 50 penilai
0Pembaca unik
0Kunjungan unik harian

Pembaca unik dihitung lintas hari. Kunjungan adalah akumulasi hitungan sekali per akun per hari, mulai pencatatan fitur ini.

Login untuk memberi rating artikel

Gambaran umum

Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free)

  1. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal anestesi atau anestesi lokal
  2. Dilakukan insisi oblique atau horizontal  2 jari di atas garis medial SIAS sampai tuberkulum pubikum. Irisan 6-8 cm.

3. Jaringan subkutis dilakukan diseksi dengan electrocouter hingga membuka fascia scarpa.
4. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Obligus Abdominis Eksternus)

5. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam dengan irisan kecil, kemudian dilebarkan dengan Metzenbaum.
6. Presrervasi n. iliohipogaster dan n. ilioinguinal
7. Identifikasi tuberculum pubikum dan Funikulus spermatikus. Funikulus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait penrose drain, dielevasi 2 cm ke arah simfisis pubis dan kantong hernia diidentifikasi

8. Pada hernia indriek kantong hernia ditemukan di anterolateral funiculus spermatikus.
9. Kantong hernia dibebaskan secara tumpul dari funiculus spermticus.

 10. Kantong hernia dinilai, apakah viable atau tidak. Kantong diincisi dan dinilai isi dari kantong tersebut. Jika tidak ddidapati tanda iskemia, isi kantong bisa dimasukkan Kembali ke rongga peritoneum.

11. Jika isi kantong tidak viable, dapat dilakukan reseksi.
12. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium, dilanjutkan dengan herniotomi, kantong hernia dipotong setinggi lemak preperitoneum.

13. Dilanjutkan dengan herniorafi dan hernioplasty dengan mesh.

14. Luka dicuci sampai bersih, operasi selesai

Komplikasi

Komplikasi setelah hernioplasti Lichtenstein

Nyeri pascaoperasi awal, hematoma, dan seroma merupakan kejadian yang dapat muncul setelah operasi hernia.

Nyeri inguinal yang menetap perlu dinilai menurut durasi, intensitas, dan dampaknya terhadap aktivitas.

Penanganan saraf, jenis mesh, fiksasi, dan faktor pasien dapat memengaruhi risiko nyeri kronis.

HerniaSurge 2023 menyatakan bahwa mesh ringan pada teknik Lichtenstein dapat mengurangi nyeri kronis dan sensasi benda asing dibanding mesh berat.

Rekurensi dapat berkaitan dengan ukuran overlap, posisi mesh, teknik, dan karakteristik defek.

Infeksi luka atau mesh memerlukan evaluasi terarah dan tidak selalu ditangani dengan cara yang sama.

Cedera pembuluh, korda spermatika, atau struktur saraf merupakan risiko teknis yang perlu dihindari.

Retensi urin dapat terjadi pada periode segera setelah operasi, terutama pada pasien dengan faktor predisposisi.

Keluhan benjolan pascaoperasi perlu dibedakan antara seroma, hematoma, dan hernia berulang.

Konseling sebelum operasi menjelaskan risiko yang mungkin terjadi dan tanda yang memerlukan evaluasi ulang.

SUMBER PEMBELAJARAN

Daftar referensi

  1. Stabilini C, van Veenendaal N, Aasvang E, Agresta F, Aufenacker T, Berrevoet F, et al. Update of the international HerniaSurge guidelines for groin hernia management. BJS Open. 2023;7(5):zrad080. doi: 10.1093/bjsopen/zrad080.

BELAJAR BERSAMA

Diskusi publik

Tanya jawab umum seputar artikel. Tugas dan koreksi kontributor berada di editor.

Baca diskusi secara publik. Login untuk berkomentar

Belum ada diskusi. Mulai dengan pertanyaanmu.

Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free)

Foto lengkap artikel Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free)