Herniorepair : Lichtenstein (Tension Free)
- Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal anestesi atau anestesi lokal
- Dilakukan insisi oblique atau horizontal 2 jari di atas garis medial SIAS sampai tuberkulum pubikum. Irisan 6-8 cm.
3. Jaringan subkutis dilakukan diseksi dengan electrocouter hingga membuka fascia scarpa.
4. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Obligus Abdominis Eksternus)
5. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam dengan irisan kecil, kemudian dilebarkan dengan Metzenbaum.
6. Presrervasi n. iliohipogaster dan n. ilioinguinal
7. Identifikasi tuberculum pubikum dan Funikulus spermatikus. Funikulus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait penrose drain, dielevasi 2 cm ke arah simfisis pubis dan kantong hernia diidentifikasi
8. Pada hernia indriek kantong hernia ditemukan di anterolateral funiculus spermatikus.
9. Kantong hernia dibebaskan secara tumpul dari funiculus spermticus.
10. Kantong hernia dinilai, apakah viable atau tidak. Kantong diincisi dan dinilai isi dari kantong tersebut. Jika tidak ddidapati tanda iskemia, isi kantong bisa dimasukkan Kembali ke rongga peritoneum.
11. Jika isi kantong tidak viable, dapat dilakukan reseksi.
12. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium, dilanjutkan dengan herniotomi, kantong hernia dipotong setinggi lemak preperitoneum.
13. Dilanjutkan dengan herniorafi dan hernioplasty dengan mesh.
14. Luka dicuci sampai bersih, operasi selesai
Sumber catatan
- Stabilini C, van Veenendaal N, Aasvang E, Agresta F, Aufenacker T, Berrevoet F, et al. Update of the international HerniaSurge guidelines for groin hernia management. BJS Open. 2023;7(5):zrad080. doi: 10.1093/bjsopen/zrad080.
Lokasi catatan: HerniaSurge 2023: konsep perbaikan Lichtenstein, pemilihan mesh, nyeri kronis, dan kekambuhan.
Lihat catatan dari sumber ini