Pendekatan diagnosis hernia inguinalis
Diagnosis dimulai dengan melihat dan meraba kedua regio groin saat pasien berdiri dan berbaring.
Pemeriksaan dapat diulang saat batuk atau melakukan manuver yang meningkatkan tekanan intraabdomen.
Lokasi terhadap ligamentum inguinale dan tuberkulum pubikum membantu membedakan hernia inguinalis dari femoralis.
Pemeriksa menilai ukuran, nyeri, konsistensi, dan kemampuan isi hernia untuk direduksi.
Pemeriksaan kedua sisi berguna karena keluhan tidak selalu terbatas pada sisi yang dilaporkan.
Benjolan dapat berasal dari limfonodi, lipoma, hidrokel, aneurisma, atau kelainan jaringan lain.
Jika temuan klinis tidak konklusif, ultrasonografi atau modalitas pencitraan lain dapat dipilih.
Nyeri groin tanpa benjolan memerlukan pertimbangan penyebab muskuloskeletal dan saraf.
Tanda obstruksi atau dugaan strangulasi mengubah evaluasi menjadi penilaian yang mendesak.
Kesimpulan diagnosis dicatat bersama sisi, jenis, gejala, serta komplikasi yang ditemukan.
Sumber catatan
- Stabilini C, van Veenendaal N, Aasvang E, Agresta F, Aufenacker T, Berrevoet F, et al. Update of the international HerniaSurge guidelines for groin hernia management. BJS Open. 2023;7(5):zrad080. doi: 10.1093/bjsopen/zrad080.
Lokasi catatan: Algoritme diagnosis klinis serta peran pencitraan pada kasus yang meragukan dalam pedoman HerniaSurge.
Lihat catatan dari sumber ini