Langsung ke konten
SurgBookBelajar. Berdiskusi. Berbagi.
Identitas tetap #353Versi aktif #353
Ditulis oleh AdministratorDibuat 2026-10-15 08:39:39Diperbarui 2026-10-15 08:39:39

Tatalaksana

Tujuan Tata Laksana

  • Memulihkan anatomi mandibula
  • Imobilisasi
  • Mencegah komplikasi
  • Rehabilitasi fungsi

Prinsip Tata Laksana

  1. Reduksi fraktur adekuat
  2. Stabilitas adekuat untuk mengoptimalkan proses bone healing
  3. Pengembalian oklusi seperti sebelum terjadinya cedera
  4. Pengembalian fungsi mandibula
  5. Hindari komplikasi (malunion, nonunion, infeksi dan cedera saraf)

Emergency Management (Tata Laksana Gawat Darurat)

This section outlines the initial steps for emergency care:

  • Stabilisasi airway, breathing, circulation: This refers to the primary assessment and stabilization of the patient's ABC (Airway, Breathing, Circulation), which is standard in emergency protocols.

  • Suturing luka intra- dan ekstraoral: Suturing (stitching) of intra- and extraoral wounds (wounds inside and outside the mouth).

  • Imobilisasi awal: Initial immobilization, which includes:

    • Bridle wiring

    • Bebat tekan (Barton Bandage)


Bridle Wiring

  • Metode reduksi dan fiksasi menggunakan kawat berukuran 24- hingga 26- gauge, dengan anestesi lokal. Kawat dililitkan ke gigi yang paling dekat.

  • Translation: This is a reduction and fixation method using 24- to 26- gauge wire, with local anesthesia. The wire is wrapped around the nearest teeth.

  • The adjacent image shows a close-up of the Bridle wiring technique applied to the teeth.


Bebat tekan (Barton Bandage)

  • Merupakan metode fiksasi sementara pada area mandibular menggunakan elastis/kassa steril/kain berukuran kecil

  • Translation: This is a temporary fixation method for the mandibular area (lower jaw) using elastic/sterile gauze/small-sized cloth.

  • The bottom-left image shows a person with a Barton bandage applied to the head and jaw.


Tata Laksana Definitif Fraktur Stabil : Reduksi Tertutup

Indikasi

  • Fraktur nondisplaced favorable / Fraktur stabil
  • Fraktur kominuta dengan fragmen tulang sangat hancur
  • Fraktur mandibula pada pasien yang tidak memiliki gigi
  • Sedikit jaringan lunak di atas lokasi fraktur
  • Fraktur processus coronoid

Kontraindikasi

  • Pasien dengan riwayat asma dan parkinsonisme

Kelebihan

  • Tidak membutuhkan prosedur rawat inap
  • Cost-effective
  • Mencegah kerusakan organ vital di sekeliling mandibula

Kekurangan

  • Restriksi membuka mulut selama 4 minggu
  • Restriksi diet hanya boleh diet cair
  • Sulit menjaga higien oral
  • Penurunan berat badan
  • Trismus parsial

Tata Laksana Definitif Fraktur Tidak Stabil : Reduksi Terbuka

Indikasi

  • Fraktur displaced unfavorable / Fraktur tidak stabil
  • Fraktur multipel
  • Terdapat midface atau condylar fracture
  • Prosedur intramaxillary fixation tidak memungkinkan
  • Pada pasien yang membutuhkan waktu pemulihan yang cepat

Kontraindikasi

  • Pasien dengan kontraindikasi general anesthesia
  • Fraktur kominuta berat dan terdapat kerusakan/kehilangan jaringan lunak
  • Infeksi berat pada lokasi fraktur
  • Pasien menolak operasi

Pendekatan operatif

  • Intraoral
  • Ekstraoral
  • Transbuccal

Tata Laksana Reduksi Terbuka

Intraoral Approach

  • Pendekatan operasi dengan insisi di dalam cavum oris
  • Dilakukan pada fraktur regio simfisis dan parasimfisis
  • Insisi setidaknya 5 mm dari mucogingival junction pada mukosa labium inferior

Transbuccal Approach

  • Pendekatan operasi dengan pemasangan plate dan drilling pada bagian lateral mandibular, dan divisualisasi secara langsung secara transoral.
  • Dilakukan pada fraktur regio angulus/ramus
  • Di tengah โ†’ irisan 5-10 mm dari gigi; mendekati foramen mentalis
  • โ†’ irisan mendekati gigi (kerugian: penjahitan sulit)
  • (The image on the left illustrates the Intraoral Approach, and the image on the right illustrates the Transbuccal Approach.)

Extraoral Approach

  • Pendekatan operasi dengan insisi di luar cavum oris
  • Risdon's Incision: insisi submandibular 2 cm dari margo inferior os.mandibula untuk menghindari kerusakan r. marginalis mandibulae n. facialis.
  • Idealnya insisi dilakukan pada permukaan kulit dengan tekanan permukaan yang rendah (Langer's line)
  • (The image illustrates the location of the incision below the mandible.)

Tata Laksana Reduksi Terbuka

Langkah prosedur

  1. Insisi intra-/ekstraoral setidaknya 5 mm dari mucogingival junction
  2. Singkap lokasi fraktur
  3. Pisahkan area tulang dengan otot sekitarnya
  4. Kuretase jaringan granulasi, irigasi menggunakan normal saline
  5. Reduksi dengan bantuan bone holding forceps atau chin retractor
  6. Imobilisasi menggunakan maxillomandibular fixation
  7. Fiksasi dengan plate dan screw
  8. Penutupan luka operasi
  9. Bebat tekan di atas lokasi operasi

Tindakan Pasca Operasi

  1. Dilakukan penguncian mulut (dengan IDW/IMW/arcbarr) untuk imobilisasi rahang selama maks. 2 minggu (untuk mencegah joint stiffness rahang pada pasien usia ekstrem)
  2. Analgetik
  3. Antibiotik (sejak preoperasi)
  4. Oral hygiene: kumur dengan cairan antiseptik, rajin sikat gigi, jika minum/makan non air putih selalu bersihkan setelahnya
  5. Diet cair

Sumber catatan

Belum memiliki sumber

Apakah catatan ini membantu?

0 suka ยท 0 tidak suka

Login untuk memberi penilaian

Satu penilaian per pengguna. Klik pilihan aktif untuk membatalkan.

Dipakai pada artikel

Perubahan yang diterbitkan penulis akan tampil pada seluruh artikel di bawah.

Hanya penulis catatan yang dapat mengedit. Koreksi dapat dibahas bersama kontributor artikel.