Tatalaksana
Tujuan Tata Laksana
- Memulihkan anatomi mandibula
- Imobilisasi
- Mencegah komplikasi
- Rehabilitasi fungsi
Prinsip Tata Laksana
- Reduksi fraktur adekuat
- Stabilitas adekuat untuk mengoptimalkan proses bone healing
- Pengembalian oklusi seperti sebelum terjadinya cedera
- Pengembalian fungsi mandibula
- Hindari komplikasi (malunion, nonunion, infeksi dan cedera saraf)
Emergency Management (Tata Laksana Gawat Darurat)
This section outlines the initial steps for emergency care:
-
Stabilisasi airway, breathing, circulation: This refers to the primary assessment and stabilization of the patient's ABC (Airway, Breathing, Circulation), which is standard in emergency protocols.
-
Suturing luka intra- dan ekstraoral: Suturing (stitching) of intra- and extraoral wounds (wounds inside and outside the mouth).
-
Imobilisasi awal: Initial immobilization, which includes:
-
Bridle wiring
-
Bebat tekan (Barton Bandage)
-
Bridle Wiring
-
Metode reduksi dan fiksasi menggunakan kawat berukuran 24- hingga 26- gauge, dengan anestesi lokal. Kawat dililitkan ke gigi yang paling dekat.
-
Translation: This is a reduction and fixation method using 24- to 26- gauge wire, with local anesthesia. The wire is wrapped around the nearest teeth.
-
The adjacent image shows a close-up of the Bridle wiring technique applied to the teeth.
Bebat tekan (Barton Bandage)
-
Merupakan metode fiksasi sementara pada area mandibular menggunakan elastis/kassa steril/kain berukuran kecil
-
Translation: This is a temporary fixation method for the mandibular area (lower jaw) using elastic/sterile gauze/small-sized cloth.
-
The bottom-left image shows a person with a Barton bandage applied to the head and jaw.
Tata Laksana Definitif Fraktur Stabil : Reduksi Tertutup
Indikasi
- Fraktur nondisplaced favorable / Fraktur stabil
- Fraktur kominuta dengan fragmen tulang sangat hancur
- Fraktur mandibula pada pasien yang tidak memiliki gigi
- Sedikit jaringan lunak di atas lokasi fraktur
- Fraktur processus coronoid
Kontraindikasi
-
Pasien dengan riwayat asma dan parkinsonisme
Kelebihan
- Tidak membutuhkan prosedur rawat inap
- Cost-effective
- Mencegah kerusakan organ vital di sekeliling mandibula
Kekurangan
- Restriksi membuka mulut selama 4 minggu
- Restriksi diet hanya boleh diet cair
- Sulit menjaga higien oral
- Penurunan berat badan
- Trismus parsial
Tata Laksana Definitif Fraktur Tidak Stabil : Reduksi Terbuka
Indikasi
- Fraktur displaced unfavorable / Fraktur tidak stabil
- Fraktur multipel
- Terdapat midface atau condylar fracture
- Prosedur intramaxillary fixation tidak memungkinkan
- Pada pasien yang membutuhkan waktu pemulihan yang cepat
Kontraindikasi
- Pasien dengan kontraindikasi general anesthesia
- Fraktur kominuta berat dan terdapat kerusakan/kehilangan jaringan lunak
- Infeksi berat pada lokasi fraktur
- Pasien menolak operasi
Pendekatan operatif
- Intraoral
- Ekstraoral
- Transbuccal
Tata Laksana Reduksi Terbuka
Intraoral Approach
- Pendekatan operasi dengan insisi di dalam cavum oris
- Dilakukan pada fraktur regio simfisis dan parasimfisis
- Insisi setidaknya 5 mm dari mucogingival junction pada mukosa labium inferior
Transbuccal Approach
- Pendekatan operasi dengan pemasangan plate dan drilling pada bagian lateral mandibular, dan divisualisasi secara langsung secara transoral.
- Dilakukan pada fraktur regio angulus/ramus
- Di tengah โ irisan 5-10 mm dari gigi; mendekati foramen mentalis
- โ irisan mendekati gigi (kerugian: penjahitan sulit)
- (The image on the left illustrates the Intraoral Approach, and the image on the right illustrates the Transbuccal Approach.)
Extraoral Approach
- Pendekatan operasi dengan insisi di luar cavum oris
- Risdon's Incision: insisi submandibular 2 cm dari margo inferior os.mandibula untuk menghindari kerusakan r. marginalis mandibulae n. facialis.
- Idealnya insisi dilakukan pada permukaan kulit dengan tekanan permukaan yang rendah (Langer's line)
- (The image illustrates the location of the incision below the mandible.)
Tata Laksana Reduksi Terbuka
Langkah prosedur
- Insisi intra-/ekstraoral setidaknya 5 mm dari mucogingival junction
- Singkap lokasi fraktur
- Pisahkan area tulang dengan otot sekitarnya
- Kuretase jaringan granulasi, irigasi menggunakan normal saline
- Reduksi dengan bantuan bone holding forceps atau chin retractor
- Imobilisasi menggunakan maxillomandibular fixation
- Fiksasi dengan plate dan screw
- Penutupan luka operasi
- Bebat tekan di atas lokasi operasi
Tindakan Pasca Operasi
- Dilakukan penguncian mulut (dengan IDW/IMW/arcbarr) untuk imobilisasi rahang selama maks. 2 minggu (untuk mencegah joint stiffness rahang pada pasien usia ekstrem)
- Analgetik
- Antibiotik (sejak preoperasi)
- Oral hygiene: kumur dengan cairan antiseptik, rajin sikat gigi, jika minum/makan non air putih selalu bersihkan setelahnya
- Diet cair
Sumber catatan
Belum memiliki sumber