Tatalaksana

Prinsip penanganan Traumatic Brain Injury (TBI)
- Fokus utama perawatan adalah mencegah dan mengatasi secondary injury, seperti inflamasi, bekuan darah, edema, kejang, hingga gangguan metabolik
- Stabilisasi awal dan pengembalian homeostasis : menjaga oksigenasi (PaO₂ ≥ 60 mmHg atau sat O₂ ≥ 90 %), tekanan darah sistolik > 90 mmHg
- Kontrol ICP dan CPP : mannitol/hypertonik, ventilasi optimal, normotermia
- Bedah jika perlu : Kraniotomi/dekompresi bila ICP refraktori atau adanya lesi signifikan
- Rehabilitasi : Prioritaskan penguatan fungsi neurologis dan kualitas hidup
Target Penatalaksanaan Traumatic Brain Injury (TBI)
- Target Oksigenasi dan Tekanan Darah :
- Pastikan saturasi oksigen ≥ 90% atau PaO₂ ≥ 60 mmHg.
- Tegakkan tekanan darah sistolik > 90 mmHg untuk mencegah hipoperfusi otak.
- Monitoring ICP dan CPP
- Target ICP: < 20 mmHg.
- Target CPP: dipertahankan antara 50–70 mmHg.
- Intervensi Medik dan Bedah
- Terapi hiperosmolar (mannitol atau saline) dan drainase CSF untuk mengendalikan ICP.
- Decompressive craniectomy : bila ICP refraktori terhadap terapi medis, atau terdapat lesi massa dengan herniasi (midline shift)
- Nutrisi & Pencegahan Komplikasi
- Profilaksis Kejang
Greenberg, M. S. (2022). Handbook of Neurosurgery (10th ed.). New York, NY: Thieme Medical Publishers.
Airway :
- (Level II¹): Trakeostomi dini mengurangi lama penggunaan ventilator mekanik,tetapi tidak memengaruhi angka kematian atau kejadian pneumonia.
- Waktu ekstubasi (Level III¹): Ekstubasi dini pada pasien yang memenuhi kriteria ekstubasi tidak meningkatkan risiko pneumonia.
- Karbondioksida intra-arteri (PaCO₂) adalah vasodilator serebrovaskular paling kuat,yang efeknya kemungkinan dimediasi oleh perubahan pH akibat difusi cepat CO₂ melintasi sawar darah-otak (BBB).
- Hiperventilasi (HPV) menurunkan tekanan intrakranial (ICP) dengan menurunkan PaCO₂,yang menyebabkan vasokonstriksi serebral, sehingga mengurangi volume darah otak (CBV).
- Vasokonstriksi ini juga menurunkan aliran darah otak (CBF),yang bisa menyebabkan iskemia fokal pada area yang masih memiliki autoregulasi otak yang utuh, akibat adanya shunting.
Manitolisasi :
Dosis dan Waktu Kerja
- Onset efek penurunan ICP setelah bolus: 1–5 menit, puncak dalam 20–60 menit.
- Untuk penurunan ICP : dosis awal 1 g/kg selama 30 menit.
- Untuk terapi jangka panjang: infus diperlambat hingga 60 menit, dosis diturunkan (misalnya 0,25–0,5 g/kg tiap 6 jam, per 8 jam, dll).
- Disarankan untuk menggunakan dosis efektif terkecil, misalnya 0,25 mg/kg tiap 2–3 jam → menghindari efek rebound dan jumlah bolus yang berlebihan.
- Titrasi berdasarkan ICP (bukan dosis tetap) menghasilkan dosis total manitol lebih rendah.
- Efektivitas meningkat jika dikombinasikan dengan loop diuretik.
Hypersaline
pada pasien yang tidak responsif terhadap manitol, belum terbukti memberikan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan manitol.
- Infus kontinu:
- Salin 3% dapat diberikan melalui infus perifer dengan kecepatan 25–50 ml/jam.
- Bolus: Salin 7,5–23,4% harus diberikan melalui line sentral
- Penghentian:
- HS sebaiknya dihentikan setelah ±72 jam untuk mencegah rebound edema.
- Catatan: Tunda pemberian jika osmolaritas serum > 320 mOsm/L