Langsung ke konten
SurgBookBelajar. Berdiskusi. Berbagi.
Foto artikel Traumatic Brain Injury (TBI) Perbesar foto
Traumatic Brain Injury (TBI)

ARTIKEL ILMU BEDAH

Traumatic Brain Injury (TBI)

11 subartikelDiskusi bersama

DIBANGUN BERSAMA

Tim & aktivitas artikel

Penanggung jawab

Administrator

Kontributor

Belum ada kontributor tambahan.

— / 50 penilai
1Pembaca unik
1Kunjungan unik harian

Pembaca unik dihitung lintas hari. Kunjungan adalah akumulasi hitungan sekali per akun per hari, mulai pencatatan fitur ini.

Login untuk memberi rating artikel

Gambaran umum

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Anatomi

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Etiologi & Faktor Resiko

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Patofisiologi

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Klasifikasi

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Anamnesis

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Pemeriksaan Fisik

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Penunjang

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Diagnosis

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

Tatalaksana

Tatalaksana

Prinsip penanganan Traumatic Brain Injury (TBI)

  1. Fokus utama perawatan adalah mencegah dan mengatasi secondary injury, seperti inflamasi, bekuan darah, edema, kejang, hingga gangguan metabolik
  2. Stabilisasi awal dan pengembalian homeostasis : menjaga oksigenasi (PaO₂ ≥ 60 mmHg atau sat O₂ ≥ 90 %), tekanan darah sistolik > 90 mmHg
  3. Kontrol ICP dan CPP : mannitol/hypertonik, ventilasi optimal, normotermia
  4. Bedah jika perlu : Kraniotomi/dekompresi bila ICP refraktori atau adanya lesi signifikan
  5. Rehabilitasi : Prioritaskan penguatan fungsi neurologis dan kualitas hidup

Target Penatalaksanaan Traumatic Brain Injury (TBI)

  1. Target Oksigenasi dan Tekanan Darah : 
    • Pastikan saturasi oksigen ≥ 90% atau PaO₂ ≥ 60 mmHg.
    • Tegakkan tekanan darah sistolik > 90 mmHg untuk mencegah hipoperfusi otak.
  2. Monitoring ICP dan CPP
    • Target ICP: < 20 mmHg. 
    • Target CPP: dipertahankan antara 50–70 mmHg. 
  3. Intervensi Medik dan Bedah
    • Terapi hiperosmolar (mannitol atau saline) dan drainase CSF untuk mengendalikan ICP.
    • Decompressive craniectomy : bila ICP refraktori terhadap terapi medis, atau terdapat lesi massa dengan herniasi (midline shift) 
  4. Nutrisi & Pencegahan Komplikasi
  5. Profilaksis Kejang

 


Greenberg, M. S. (2022). Handbook of Neurosurgery (10th ed.). New York, NY: Thieme Medical Publishers.

Airway :

  • (Level II¹): Trakeostomi dini mengurangi lama penggunaan ventilator mekanik,tetapi tidak memengaruhi angka kematian atau kejadian pneumonia.
  • Waktu ekstubasi (Level III¹): Ekstubasi dini pada pasien yang memenuhi kriteria ekstubasi tidak meningkatkan risiko pneumonia.

  • Karbondioksida intra-arteri (PaCO₂) adalah vasodilator serebrovaskular paling kuat,yang efeknya kemungkinan dimediasi oleh perubahan pH akibat difusi cepat CO₂ melintasi sawar darah-otak (BBB).
  • Hiperventilasi (HPV) menurunkan tekanan intrakranial (ICP) dengan menurunkan PaCO₂,yang menyebabkan vasokonstriksi serebral, sehingga mengurangi volume darah otak (CBV).
  • Vasokonstriksi ini juga menurunkan aliran darah otak (CBF),yang bisa menyebabkan iskemia fokal pada area yang masih memiliki autoregulasi otak yang utuh, akibat adanya shunting.

Manitolisasi : 

Dosis dan Waktu Kerja

  1. Onset efek penurunan ICP setelah bolus: 1–5 menit, puncak dalam 20–60 menit.
  2. Untuk penurunan ICP : dosis awal 1 g/kg selama 30 menit.
  3. Untuk terapi jangka panjang: infus diperlambat hingga 60 menit, dosis diturunkan (misalnya 0,25–0,5 g/kg tiap 6 jam, per 8 jam, dll).
  4. Disarankan untuk menggunakan dosis efektif terkecil, misalnya 0,25 mg/kg tiap 2–3 jam → menghindari efek rebound dan jumlah bolus yang berlebihan.
  5. Titrasi berdasarkan ICP (bukan dosis tetap) menghasilkan dosis total manitol lebih rendah.
  6. Efektivitas meningkat jika dikombinasikan dengan loop diuretik.

Hypersaline

pada pasien yang tidak responsif terhadap manitol, belum terbukti memberikan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan manitol.

  • Infus kontinu:
    • Salin 3% dapat diberikan melalui infus perifer dengan kecepatan 25–50 ml/jam.
    • Bolus: Salin 7,5–23,4% harus diberikan melalui line sentral
  • Penghentian:
    • HS sebaiknya dihentikan setelah ±72 jam untuk mencegah rebound edema.
    • Catatan: Tunda pemberian jika osmolaritas serum > 320 mOsm/L

 

 

Prognosis

Belum ada catatan yang disetujui pada subartikel ini.

SUMBER PEMBELAJARAN

Daftar referensi

Belum ada referensi yang dikonfirmasi pada catatan artikel ini.

BELAJAR BERSAMA

Diskusi publik

Tanya jawab umum seputar artikel. Tugas dan koreksi kontributor berada di editor.

Baca diskusi secara publik. Login untuk berkomentar

Belum ada diskusi. Mulai dengan pertanyaanmu.

Traumatic Brain Injury (TBI)

Foto lengkap artikel Traumatic Brain Injury (TBI)